Tes HIV

Untuk menetapkan apakah seseorang terkena HIV atau tidak, dokter akan melakukan beberapa macam tes. Tes ini bertujuan untuk mengetahui seseorang terinfeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau tidak. Tes HIV dapat dilakukan melalui program Voluntary Counseling and Testing (VCT) ataupun Provider Initiated Testing and Conselling (PITC). Melalui VCT seseorang dapat secara sukarela meminta untuk diperiksa apakah ia terinfeksi HIV atau tidak.

Meskipun VCT sifatnya sukarela, namun banyak orang yag datang ke fasilitas kesehatan dalam keadaan terlambat. Artinya, sudah timbul gejala-gejala yang mengarah ke HIV/AIDS, baru ia datang memeriksakan diri. Alangkah baiknya jika tes HIV ini bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat untuk deteksi dini HIV. Karena gejala HIV memang akan muncul setelah sekian tahun orang terinfeksi HIV.

Sedangkan melalui PICT, dokter dapat menyarankan pasiennya untuk memeriksakan diri jika dirasa perlu. Biasanya karena ada faktor resiko misalnya pengguna narkoba suntik, memiliki pasangan yang positif HIV, atau anak dengan ibu HIV. Namun demikian pelaksanaan tes HIV ini tetap harus dengan persetujuan pasien.

Posted in Obat Hiv | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Obat HIV AIDS

Faktor utama yang terus menghidupkan epidemi HIV adalah justru obat-obat yang digunakan untuk merawat mereka. Obat-obatan ini dan cara pemakaian yang salah (biasanya oleh dokter-dokter tak dikenal) dapat menimbulkan mutasi HIV lain yang lebih ganas dan berbahaya dan kerusakan-kerusakan yang mematikan.

Pada September 2001, sebuah studi tentang obat natural dipublikasikan, dilaporkan “keberadaan HIV yang resisten terhadap obat sudah sangat tinggi dan akan terus meningkat”. Dengan kata lain HIV menjadi semakin resisten terhadap obat-obatan yang sekarang ini diberikan kepada penderita sehingga membuat pemyakit menjadi semakin lama berada di dalam tubuh manusia dan bukan sebaliknya.

“Obat-obatan ini sangat berbahaya, “Dr. James Kahn, asisten profesor kedokteran UCSF, mengingatkan. “Dokter umum sebaiknya tidak menggunakannya. Anda benar-benar membutuhkan seorang spesialis HIV untuk memberikan pengobatan yang tepat dengan pengawasan yang ketat atas penerimaan dan reaksi pasien terhadap pengobatan tersebut”.

Seorang dokter umum biasa tidak memenuhi syarat untuk menangani pengobatan dengan obat-obatan yang beredar saat ini. Penanganan yang salah akan menimbulkan konsekuensi yang sangat buruk. WHO dan industri farmasi di AS mengetahui hal ini, tetapi mereka hanya tinggal diam.

Pada saat ini infeksi HIV tidak dapat diobati dan perkembangan HIV menjadi AIDS tidak dapat dicegah. Meskipun kombinasi obat-obatan baru menunjukkan harapan dalam memperlambat kemajuan ini, pengobatan itu sangat mahal dan idak tersedia bagi semua orang yang positif HIV. Obat-obatan yang tampaknya memperlambat replikasi virus ketika digunakan dalam berbagai kombinasi, meliputi inhibitor sintesis DNA inhibitor transkriptase balik (reverse transcriptase) (seperti AZT dan ddl) dan yang ketiga adalah suatu kelas obat baru yang disebut inhibitor protease. Inhibitor protease mencegah suatu langkah kunci dalam sintesis protein HIV.

Selain itu banyak obat-obatan digunakan untuk mengobati banyak penyakit oportunistik yang berkaitan dengan AIDS. Obat-obatan ini bisa memperpanjang hidup, namun tidak mengobati dan menyembuhkan AIDS itu sendiri.

Posted in Obat Hiv | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Dimana Tes HIV bisa dilakukan ?

Dimana Tes HIV bisa dilakukan ?

Untuk pemeriksaan penyaring sudah dapat dilakukan hampir di semua rumah sakit pemerintah, pusat-pusat kesehatan dan beberapa laboratorium swasta.

Saran untuk Laboratorium

Untuk menjaga agar tidak salah diagnosis, apalagi HIV mempunyai dampak sosial laboratorium disarankan untuk tidak mengeluarkan hasil setelah pemeriksaan pertama saja. Harus dilanjutkan pemeriksaan kedua dan ketiga. Apalagi jika hasilnya positif, diagnosis nya harus benar-benar dipastikan. Jika hasilnya meragukan laboratorium biasanya akan meminta bahan baru untuk diperiksa. Jangan ragu jika nanti saat Anda melakukan tes HIV, kadang-kadang Anda akan kembali diminta bahan pemeriksaan oleh laboratorium untuk memastikan diagnosisnya tidak salah.

Tes HIV : harus Informed Consent

Setiap dokter atau laboratorium yang melakukan tes HIV kepada pasien disarankan untuk melakukan informed consent, pasien harus dijelaskan mengenai pemeriksaan tersebut. Tes HIV adalah satu-satunya tes laboratorium yang harus informed consent. Sebaiknya pernyataan tertulis bahwa pasien bersedia diperiksa HIV. Ini penting karena bisa saja nanti pasien mengelak saat dilakukan pemeriksaan.

Sebelum dilakukan tes HIV, sebaiknya pasien diberikan konseling mengenai cara penularan, pemeriksaan, bagaimana jika hasilnya positif atau negatif, serta perlunya perubahan perilaku jika hasilnya positif.

Posted in Obat Hiv | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Pemeriksaan HIV

Siapa saja yang sebaiknya melakukan tes HIV ?

Tes HIV direkomendasikan untuk mereka yang mempunyai resiko tertular HIV. Penularan HIV dapat melalui hubungan seksual, melalui alat yang tidak steril setelah dipakai penidap HIV, misalnya jarum suntik, jarum tato, pisau cukur. Penularan HIV bisa juga melalui transfusi darah.

Kapan tes HIV dilakukan ?

Dokter yang telah berperan dalam Laboratorium Rujukan Nasional HIV melalui tahun 1997 ini menjelaskan bahwa ada masa jendela (window periode) yaitu waktu dimana seseorang sudah tertular HIV namun jika dilakukan pemeriksaan maka hasil tesnya negatif. Oleh karenanya pemeriksaan dilakukan setelah masa jendela terlewati. Lamanya masa jendela ini berbeda-beda untuk setiap jenis pemeriksaan. Masa jendela untuk tes antibodi terhadap antigen HIV yang digunakan untuk diagnosis di Indonesia saat ini adalah adalah 1-3 bulan. Untuk pemeriksaan menggunakan metode PCR (Polimerase Chain Reaction), masa jendelanya adalah 5-7 hari. Sedangkan masa jendela untuk pemeriksaan antigen HIV adalah 1-3 minggu.

Metode yang digunakan saat ini, penegakan diagnosis HIV menggunakan deteksi antibodi terhadap HIV, bukan dengan pemeriksaan PCR maupun antigen. Karena sama dengan infeksi virus lainnya, infeksi HIV akan menimbulkan reaksi antibodi yang kemudian dideteksi dengan alat tertentu kemudian diinterpretasikan. Pada dasarnya ditunggu apakah nanti muncul antibodi atau tidak. Setiap pemeriksaan mempunyai kelemahan, dapat positif palsu maupun negatif palsu.

Secara umum pemeriksaan antibodi dibagi menjadi dua tahap, yaitu pemeriksaan penyaring yang sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi. Pemeriksaan penyaring biasanya dilakukan menggunakan tes antibodi. Semua pemeriksaan antigen-antibodi ada cross-reaction atau reaksi silangnya. Contohnya, apabila seseorang mengalami infeksi A bisa jadi timbul antibodi yang mirip dengan antibodi HIV. Oleh karena itu bisa saja terjadi positif palsu karena reaksi silang dengan antibodi lain. Pada pemeriksaan HIV bisa juga terjadi negatif palsu karena reagen tidak mengenali antibodi HIV. HIV bisa terus bermutasi. Setiap waktu virusnya bisa berubah, di daerah yang berbeda virusnya pun bisa berbeda. Oleh karena itu harus mencari reagen yang cocok untuk di tempat masing-masing. WHO sendiri mengharuskan setiap Negara untuk melakukan uji coba atau evaluasi terhadap reagen yang cocok di wilayahnya masing-masing. Uji coba ini pun harus dilakukan secara berkala dan terus-menerus sebab bisa saja reagen yang ada sekarang tidak bisa lagi mengenali virus HIV 5 tahun yang akan datang karena virusnya mengalami mutasi.

Hasil dari pemeriksaan antibodi dinyatakan “reaktif” dan belum dikatakan “positif” jika belum melalui uji konfirmasi. Pada hakikatnya diagnosis HIV tidak hanya berdasarkan hasil laboratorium atau hasil tes penyaring semata melainkan harus dibarengi dengan evaluasi klinis atau kondisi kesehatan pasien. Jika kondisi pasien termasuk dalam resiko terkena HIV menunjukkan gejala dan tanda-tanda penurunan sisem kekebalan tubuh yang nyata, maka hasil tes penyaring yang reaktif cukup untuk menyimpulkan bahwa ia terinfeksi HIV. Namun apabila hasil tes penyaring reaktif tetapi ia tidak disertai tanda dan gejala yang mengarah ke penurunan sistem imun, maka masih memerlukan tes konfirmasi menggunakan metode Western Blot.

Tes konfirmasi yang dilakukan adalah tes untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen virus HIV. Kriteria pemeriksaan konfirmasi adalah minimal dari dua antibodi yang berbeda, yaitu antibodi yang asalnya dari core/inti dan envelope. Dikatakan positif jika kedua pemeriksaan antibodi ini positif, tetapi jika salah satu saja yang positif maka dinyatakan “belum dapat ditentukan” atau “indeterminate”.

Hasil indeterminate dapat disebabkan oleh pembentukan antibodi yang belum lengkap atau reaksi silang oleh antibodi lain. Pada keadaan tersebut perlu dilakukan pemantauan dengan mengulang pemeriksaan minimal setiap 3 bulan.

Jika setahun kemudian diperiksa kembali dan hasilnya masih juga “indeterminate”, maka dinyatakan tidak terinfeksi HIV. Pemeriksaan ulang dengan hasil yang negatif juga berarti orang tersebut tidak terinfeksi HIV. Pada orang dengan klinis atau penurunan kekebalan tubuh yang berat dapat juga hasil pemeriksaannya negatif karena sistem imun yang terlalu rendah sehingga tidak bereaksi. Pada orang seperti ini tetap disimpulkan bahwa dia terinfeksi HIV. oleh karenanya, pelaksanaan dan interpretasi pemeriksaan HIV ini sangat individual, kasus-per kasus.

Pemilihan Reagen

Di Indonesia jumlah penyandang HIV kurang dari 10% populasi, sesuai dengan saran dari WHO dan UNG pemeriksaan HIV di Indonesia mengikuti pemeriksaan HIV strategi tiga, yakni pemeriksaan yang dilakukan harus dengan tiga jenis reagen yang berbeda. Syarat reagen pertama adalah reagen yang paling sensitif yang ada di Indonesia, yaitu di atas 99%. Jika hasil pemeriksaan pertama reaktif maka dilanjutkan dengan reagen kedua. Jika reagen kedua reaktif, maka dilanjutkan dengan reagen ketiga. Jika hasil dari ketiga reagen tersebut reaktif maka dinyatakan sebagai “reaktif”.

Syarat reagen kedua dan ketiga adalah spesifisitasnya yang tinggi (spesifik terhadap virus HIV). Agar hasilnya akurat, dalam melakukan pemeriksaan ketiga antigen yang digunakan harus berbeda atau bisa menggunakan antigen yang sama tetapi metode yang dipakai untuk setiap pemeriksaan berbeda.

Rangkaian tiga pemeriksaan ini harus dilakukan sebelum mengumumkan hasilnya. Namun jika pemeriksaan pertama negatif maka tidak perlu dilanjutkan pemeriksaan kedua dan ketiga.

Posted in Obat Hiv | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Pencegahan Hiv

Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV. Dengan tujuan mengubah kebiasaan orang-orang yang berisiko tinggi untuk tertular.

Cara-cara pencegahan Hiv ini adalah :
1. Untuk orang sehat
• Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual)
• Seks aman (terlindungi)

2. Untuk penderita Positif
• Abstinensid
• Seks aman
• Tidak mendonorkan darah atau organ
• Mencegah Kehamilan
• Membantu mitra seksualnya sebelum dan seudah diketahui terinfeksi

3. Untuk Penyalahguna obat-obatan
• Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama
• Mengikuti program rehabilitasi

4. Untuk profesional kesehatan
• Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh
• Menggunakan jarum sekali pakai

Posted in Obat Hiv | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment