Pemeriksaan HIV

Siapa saja yang sebaiknya melakukan tes HIV ?

Tes HIV direkomendasikan untuk mereka yang mempunyai resiko tertular HIV. Penularan HIV dapat melalui hubungan seksual, melalui alat yang tidak steril setelah dipakai penidap HIV, misalnya jarum suntik, jarum tato, pisau cukur. Penularan HIV bisa juga melalui transfusi darah.

Kapan tes HIV dilakukan ?

Dokter yang telah berperan dalam Laboratorium Rujukan Nasional HIV melalui tahun 1997 ini menjelaskan bahwa ada masa jendela (window periode) yaitu waktu dimana seseorang sudah tertular HIV namun jika dilakukan pemeriksaan maka hasil tesnya negatif. Oleh karenanya pemeriksaan dilakukan setelah masa jendela terlewati. Lamanya masa jendela ini berbeda-beda untuk setiap jenis pemeriksaan. Masa jendela untuk tes antibodi terhadap antigen HIV yang digunakan untuk diagnosis di Indonesia saat ini adalah adalah 1-3 bulan. Untuk pemeriksaan menggunakan metode PCR (Polimerase Chain Reaction), masa jendelanya adalah 5-7 hari. Sedangkan masa jendela untuk pemeriksaan antigen HIV adalah 1-3 minggu.

Metode yang digunakan saat ini, penegakan diagnosis HIV menggunakan deteksi antibodi terhadap HIV, bukan dengan pemeriksaan PCR maupun antigen. Karena sama dengan infeksi virus lainnya, infeksi HIV akan menimbulkan reaksi antibodi yang kemudian dideteksi dengan alat tertentu kemudian diinterpretasikan. Pada dasarnya ditunggu apakah nanti muncul antibodi atau tidak. Setiap pemeriksaan mempunyai kelemahan, dapat positif palsu maupun negatif palsu.

Secara umum pemeriksaan antibodi dibagi menjadi dua tahap, yaitu pemeriksaan penyaring yang sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi. Pemeriksaan penyaring biasanya dilakukan menggunakan tes antibodi. Semua pemeriksaan antigen-antibodi ada cross-reaction atau reaksi silangnya. Contohnya, apabila seseorang mengalami infeksi A bisa jadi timbul antibodi yang mirip dengan antibodi HIV. Oleh karena itu bisa saja terjadi positif palsu karena reaksi silang dengan antibodi lain. Pada pemeriksaan HIV bisa juga terjadi negatif palsu karena reagen tidak mengenali antibodi HIV. HIV bisa terus bermutasi. Setiap waktu virusnya bisa berubah, di daerah yang berbeda virusnya pun bisa berbeda. Oleh karena itu harus mencari reagen yang cocok untuk di tempat masing-masing. WHO sendiri mengharuskan setiap Negara untuk melakukan uji coba atau evaluasi terhadap reagen yang cocok di wilayahnya masing-masing. Uji coba ini pun harus dilakukan secara berkala dan terus-menerus sebab bisa saja reagen yang ada sekarang tidak bisa lagi mengenali virus HIV 5 tahun yang akan datang karena virusnya mengalami mutasi.

Hasil dari pemeriksaan antibodi dinyatakan “reaktif” dan belum dikatakan “positif” jika belum melalui uji konfirmasi. Pada hakikatnya diagnosis HIV tidak hanya berdasarkan hasil laboratorium atau hasil tes penyaring semata melainkan harus dibarengi dengan evaluasi klinis atau kondisi kesehatan pasien. Jika kondisi pasien termasuk dalam resiko terkena HIV menunjukkan gejala dan tanda-tanda penurunan sisem kekebalan tubuh yang nyata, maka hasil tes penyaring yang reaktif cukup untuk menyimpulkan bahwa ia terinfeksi HIV. Namun apabila hasil tes penyaring reaktif tetapi ia tidak disertai tanda dan gejala yang mengarah ke penurunan sistem imun, maka masih memerlukan tes konfirmasi menggunakan metode Western Blot.

Tes konfirmasi yang dilakukan adalah tes untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen virus HIV. Kriteria pemeriksaan konfirmasi adalah minimal dari dua antibodi yang berbeda, yaitu antibodi yang asalnya dari core/inti dan envelope. Dikatakan positif jika kedua pemeriksaan antibodi ini positif, tetapi jika salah satu saja yang positif maka dinyatakan “belum dapat ditentukan” atau “indeterminate”.

Hasil indeterminate dapat disebabkan oleh pembentukan antibodi yang belum lengkap atau reaksi silang oleh antibodi lain. Pada keadaan tersebut perlu dilakukan pemantauan dengan mengulang pemeriksaan minimal setiap 3 bulan.

Jika setahun kemudian diperiksa kembali dan hasilnya masih juga “indeterminate”, maka dinyatakan tidak terinfeksi HIV. Pemeriksaan ulang dengan hasil yang negatif juga berarti orang tersebut tidak terinfeksi HIV. Pada orang dengan klinis atau penurunan kekebalan tubuh yang berat dapat juga hasil pemeriksaannya negatif karena sistem imun yang terlalu rendah sehingga tidak bereaksi. Pada orang seperti ini tetap disimpulkan bahwa dia terinfeksi HIV. oleh karenanya, pelaksanaan dan interpretasi pemeriksaan HIV ini sangat individual, kasus-per kasus.

Pemilihan Reagen

Di Indonesia jumlah penyandang HIV kurang dari 10% populasi, sesuai dengan saran dari WHO dan UNG pemeriksaan HIV di Indonesia mengikuti pemeriksaan HIV strategi tiga, yakni pemeriksaan yang dilakukan harus dengan tiga jenis reagen yang berbeda. Syarat reagen pertama adalah reagen yang paling sensitif yang ada di Indonesia, yaitu di atas 99%. Jika hasil pemeriksaan pertama reaktif maka dilanjutkan dengan reagen kedua. Jika reagen kedua reaktif, maka dilanjutkan dengan reagen ketiga. Jika hasil dari ketiga reagen tersebut reaktif maka dinyatakan sebagai “reaktif”.

Syarat reagen kedua dan ketiga adalah spesifisitasnya yang tinggi (spesifik terhadap virus HIV). Agar hasilnya akurat, dalam melakukan pemeriksaan ketiga antigen yang digunakan harus berbeda atau bisa menggunakan antigen yang sama tetapi metode yang dipakai untuk setiap pemeriksaan berbeda.

Rangkaian tiga pemeriksaan ini harus dilakukan sebelum mengumumkan hasilnya. Namun jika pemeriksaan pertama negatif maka tidak perlu dilanjutkan pemeriksaan kedua dan ketiga.


=====================================

>>> Buah Merah Untuk Pengobatan Hiv / Aids, Buah Merah Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Bagi Penderita HIV/AIDS, KLLIK DETAIL DISINI!
=====================================


This entry was posted in Obat Hiv and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *